Kamis, 24 Mei 2012

The heart cry

Hari ini ada rasa yang membuat aku sedih yang membuncah. Ingin sekali rasa ini aku rangkai dalam untaian nada dan kata indah, tapi  tidak ada kata-kata yang bisa mewakili rasa sakit dan pedih yang aku rasakan saat ini, dan rasanya ingin sekali menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan kesedihanku ini. Malam ini hidupku terasa sepi tanpanya, setiap detik setiap saat hanya kekosongan yang ada dalam benakku. Tubuhku terasa tak berdaya tanpa dia di sampingku. Dunia terasa begitu sepi dan gelap.

Setiap kali mengingat dia, selalu saja melelehkan air mata. Aku tak suka ini. Betapa cinta menjadikan aku cengeng. Aku menangis lagi hari ini. Memukul tembok lagi. Tersayat perih lagi. Ingin berhenti sebenarnya. Tapi tetap, ingatan yang sering kali melayang padanya membuatku luruh. Begitu pedih kali ini sakit yang terasa. Mengalirkan darah dan air mata lebih banyak. Begitu membekas, tertoreh diatas luka lama.

Setiap kali aku melihat ke belakang, bayang masa lalu mentertawakanku. Betapa jauhnya perubahan yang telah dilakukan seorang dia padaku. Menangis karena cinta? Dulu akulah orang yang akan tertawa paling keras ketika ada teman yang mengadu tentang perjalanan cintanya yang tersandung dan membuatnya jatuh. Tapi kali ini, aku yang menggelepar menahan sakit dan akhirnya aku mengerti mengapa mereka tersedu ketika itu. Maka, tertawakanlah aku, karena aku tak peduli. karena aku hanya ingin dia….


Dua hari yang lalu aku melihat dia bersamanya sambil bergandengan tangan. Betapa remuknya tubuhku seakan denyut jantungku terasa berhenti seketika dan mati dalam kegelapan cinta, inginku berlari dan menghampirinya tapi kakiku seakan tak mau untuk berlari. Harus kemana aku bertanya untuk dapat memilikimu. Aku hanya inginkan kamu di sisiku saat ini hingga mataku tertutup.

Kesedihan yang selalu hinggap dalam raga ini. Kenapa dan mengapa sampai saat ini Allah belum juga mempercayakan hati kecilku dalam kehidupan ini. Semalaman ini hanya aku habiskan dengan menangis, sampai mataku sembab dan perih. Tapi malam ini juga aku berjanji dan akan berusaha kalau ini adalah tangisan kesedihan yang terakhir. Sabar…Ikhlas, harus aku tanamkan lebih lagi dalam diri ini. 

Kini Aku harus ikhlas menerima semua hal yang sudah dituliskan untukku, apapun keadaanya. Keluarga, teman-teman, pekerjaan dan segala hal yang sudah aku raih, itu semata-mata adalah titipan. Aku harus ikhlas jika yang terjadi sekarang tidak seperti yang diharapkan. Aku hanya bisa merencanakan, tapi yang tahu mana yang terbaik. Maka, belajarlah untuk bisa lebih ikhlas lagi


Dan hari ini juga aku belajar Sabar menjalani apa yang seharusnya kita jalani. Sabar atas ujian, sabar atas kekecewaan, sabar atas penantian dan atas segala sesuatu. Apa yang aku jalani saat ini, itu hanyalah sebagian kecil dari kehidupan. Bersabarlah atas ujian yang dihadapin…, hadapilah dengan senyuman dan ketulusan.


Aku cenderung aku terlalu fokus terhadap masalah dan lupa untuk bersyukur atas nikmat-Nya yang berlimpah. Aku lebih sering mempertanyakan sesuatu yang belum aku miliki tapi lupa dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini. Ya Allah, betapa banyak nikmat-Mu yang sering terlupakan olehku. Maafkan Hamba ya Allah.


Semoga curhatan aku ini dapat menjadikan aku lebih dewasa lagi dan suatu pelajaran bagiku dalam kehidupan yang begitu suram. Aku tahu anak adalah titipan, dan Engkau Maha Tahu, tapi malam ini aku terasa kesepian selama ini. Dan suatu hari kelak Engkau percaya aku telah Siap dan waktunya sudah tepat, pasti akan datang titipan itu. Aku Yakin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar