Hari
ini ada rasa yang membuat aku sedih yang membuncah. Ingin sekali rasa ini aku
rangkai dalam untaian nada dan kata indah, tapi tidak ada kata-kata yang
bisa mewakili rasa sakit dan pedih yang aku rasakan saat ini, dan rasanya ingin
sekali menghabiskan waktu dengan cepat untuk menyelesaikan kesedihanku ini.
Malam ini hidupku terasa sepi tanpanya, setiap detik setiap saat hanya kekosongan
yang ada dalam benakku. Tubuhku terasa tak berdaya tanpa dia di sampingku. Dunia
terasa begitu sepi dan gelap.
Setiap
kali mengingat dia, selalu saja melelehkan air mata. Aku tak suka ini. Betapa
cinta menjadikan aku cengeng. Aku menangis lagi hari ini. Memukul tembok lagi.
Tersayat perih lagi. Ingin berhenti sebenarnya. Tapi tetap, ingatan yang sering
kali melayang padanya membuatku luruh. Begitu pedih kali ini sakit yang terasa.
Mengalirkan darah dan air mata lebih banyak. Begitu membekas, tertoreh diatas
luka lama.
Setiap
kali aku melihat ke belakang, bayang masa lalu mentertawakanku. Betapa jauhnya
perubahan yang telah dilakukan seorang dia padaku. Menangis karena cinta? Dulu
akulah orang yang akan tertawa paling keras ketika ada teman yang mengadu
tentang perjalanan cintanya yang tersandung dan membuatnya jatuh. Tapi kali
ini, aku yang menggelepar menahan sakit dan akhirnya aku mengerti mengapa
mereka tersedu ketika itu. Maka, tertawakanlah aku, karena aku tak peduli.
karena aku hanya ingin dia….
Dua
hari yang lalu aku melihat dia bersamanya sambil bergandengan tangan. Betapa
remuknya tubuhku seakan denyut jantungku terasa berhenti seketika dan mati
dalam kegelapan cinta, inginku berlari dan menghampirinya tapi kakiku seakan
tak mau untuk berlari. Harus kemana aku bertanya untuk dapat memilikimu. Aku
hanya inginkan kamu di sisiku saat ini hingga mataku tertutup.
Kesedihan
yang selalu hinggap dalam raga ini. Kenapa dan mengapa sampai saat ini Allah
belum juga mempercayakan hati kecilku dalam kehidupan ini. Semalaman ini hanya
aku habiskan dengan menangis, sampai mataku sembab dan perih. Tapi malam ini
juga aku berjanji dan akan berusaha kalau ini adalah tangisan kesedihan yang
terakhir. Sabar…Ikhlas, harus aku tanamkan lebih lagi dalam diri ini.
Kini Aku harus ikhlas menerima semua hal yang sudah dituliskan
untukku, apapun keadaanya. Keluarga, teman-teman, pekerjaan dan segala hal yang
sudah aku raih, itu semata-mata adalah titipan. Aku harus ikhlas jika yang terjadi
sekarang tidak seperti yang diharapkan. Aku hanya bisa merencanakan, tapi yang
tahu mana yang terbaik. Maka, belajarlah untuk bisa lebih ikhlas lagi
Dan hari ini juga aku belajar Sabar menjalani apa
yang seharusnya kita jalani. Sabar atas ujian, sabar atas kekecewaan, sabar
atas penantian dan atas segala sesuatu. Apa yang aku jalani saat ini, itu
hanyalah sebagian kecil dari kehidupan. Bersabarlah atas ujian yang dihadapin…,
hadapilah dengan senyuman dan ketulusan.
Aku
cenderung aku terlalu fokus terhadap masalah dan lupa untuk bersyukur atas
nikmat-Nya yang berlimpah. Aku lebih sering mempertanyakan sesuatu yang belum
aku miliki tapi lupa dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini. Ya Allah,
betapa banyak nikmat-Mu yang sering terlupakan olehku. Maafkan Hamba ya Allah.
Semoga
curhatan aku ini dapat menjadikan aku lebih dewasa lagi dan suatu pelajaran
bagiku dalam kehidupan yang begitu suram. Aku tahu anak adalah titipan, dan
Engkau Maha Tahu, tapi malam ini aku terasa kesepian selama ini. Dan suatu hari
kelak Engkau percaya aku telah Siap dan waktunya sudah tepat, pasti akan datang
titipan itu. Aku Yakin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar