Sabtu, 10 Maret 2012

Cinta Yang Tak Terucap


kisah ini adalah kisah nyata yang berawal dari seorang pemuda yang bernama Risky dia mencintai seseorang cewek yang bernama Wanti, kini wanti satu sekolah dengan risky, tapi beda kelas mereka sekolah di SMK Suboh. wanti kelas 11 sedangkan risky kelas 12, tak terasa risky pun mulai ada rasa cinta terhadap wanti perlahan - lahan kini risky mulai mendekatinya. dan pernah ada yang bilang pada risky "kalau kamu benar - benar sayang sama tu cewek kamu harus lupain semua cewek yang ada di hatinya kamu dan kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa mendapatkan cintanya" risky pun mulai mencobanya, tiap malam risky selalu SMSin wanty terus dan selalu bilang " wan udah maem belum, wan udah sholat belum dan risky berkata wanti udah belajar belum??? kan besok sekolah" terkadang risky selalu calling wanti. tak terasa empat bulan berlalu kini saatnya risky ungkapkan isi hatinya risky berkata "wanti sejak aku pertama kali aku melihatmu aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari kamu, kamu beda dengan cewek - cewek lain dan entah kenapa saat aku ada di dekatmu hati ini terasa tenang, jujur saja wanti aku suka sama kamu, sudah lama aku pendam perasaanku ini terhadap kamu. wanti apakah kamu mau menjadi pacar aku wanti!!!!!"

Aku Selalu Salah Dimata Mama


Di awal ceritaku ini akan aku ceritakan sebuah pengalamanku yang selalu dibeda - bedakan dengan kedua Kakak – kakakku dan mama selalu menyalahkan aku bahkan aku pun selalu salah dimata mamaku. Hingga suatu hari aku jatuh sakit, sedikitpun mama gak pernah menanyakan kondisi aku. Kini hati mulai berfikir negatif dan selalu bertanya - tanya "apakah aku ini anaknya atau anak tirinya?" begitu banyak pertanyaan itu yang selalu ada di fikiranku.
"Oh Tuhan harus kemana aku mengadu dan akan aku bawa kemana penderitaanku ini" hari demi hari aku selalu dengan bersabar untuk menghadapi semua penderitaanku ini, langkah demi langkah aku lalui. Suatu ketika aku hampir Ujian Sekolah aku berharap mamaku mendukungku, tapi ternyata harapanku hanyalah sia – sia saja dan aku berkata "yaaah biarlah, biar tuhan yang akan mendukungku" meski dalam hati aku selalu menangis namun aku harus tetap tegar untuk menjalaninya.